"Esai Filosofis Pergerakan"

Marhaenisme bukan sekadar ajaran tentang siapa rakyat itu. Ia adalah kesadaran bahwa kemerdekaan yang sesungguhnya, terwujud ketika rakyat yang bekerja jujur, menjadi tuan di tanah airnya sendiri.

Sementara Doktrin Karya Kekaryaan, bukan sekadar ajaran tentang bekerja. Dia adalah sikap batin yaitu mengabdi untuk memberi, bukan bekerja untuk mengumpulkan keuntungan pribadi.

Keduanya lahir dari satu sumber nurani yang sama, yakni keinginan luhur, agar manusia dihargai atas keringat dan kejujurannya, bukan atas kekuasaan atau harta yang dikumpulkan dari hasil orang lain.

MARHAENISME: CITA-CITA YANG HARUS DIPEGANG

Bung Karno menggambarkan Marhaen, sebagai petani, nelayan, buruh, dan rakyat kecil yang bekerja dengan tangan sendiri. Mereka tidak mengeksploitasi sesama, namun sering kali justru menjadi pihak yang paling dirugikan.

Marhaenisme menegaskan: kekayaan alam dan hasil kerja bangsa ini, adalah milik mereka yang mengolahnya. Ia menolak segala bentuk penindasan, penumpukan kekayaan di segelintir tangan, serta ketidakadilan yang memiskinkan orang jujur, demi menggemukkan pihak yang berkuasa.

Namun cita-cita setinggi ini, tidak akan pernah turun begitu saja dari langit. Ia tidak akan terwujud hanya dengan pidato berapi-api atau tulisan yang indah. Cita-cita tentang kemuliaan rakyat kecil ini, membutuhkan sarana, membutuhkan sikap, dan membutuhkan cara berjuang yang sesuai dengan jiwanya sendiri.

KARYA KEKARYAAN: JALAN MENUJU CITA-CITA

Di sinilah Doktrin Karya Kekaryaan hadir, sebagai pelengkap yang tak terpisahkan. 

Kekaryaan mengajarkan, perjuangan bukanlah tentang siapa yang paling berkuasa, melainkan siapa yang paling banyak memberi manfaat. 

Ia menanamkan keyakinan, bahwa bekerja adalah kehormatan, melayani adalah kemuliaan, dan pengabdian adalah kebutuhan jiwa.

Orang yang berkarya sejati, tidak bekerja untuk dipuji, tidak bekerja untuk jabatan, dan tidak bekerja untuk keuntungan sendiri. Ia bekerja karena sadar, setiap tetes keringatnya adalah sumbangan bagi tegaknya keadilan dan kemakmuran bersama. 

Inilah persis sifat kaum Marhaen, yaitu bekerja tulus, sederhana, dan ikhlas mempersembahkan hasilnya bagi kehidupan bersama.

CONTOH NYATA DI MASA KINI

Ketika kita turun memastikan pupuk tepat sasaran, bukan mencari untung dari selisih harga, itulah Marhaenisme yang dijalankan dengan semangat Kekaryaan. 

Ketika kita mendampingi nelayan agar hasil tangkapan tidak ditipu tengkulak, atau memastikan bantuan pembangunan desa benar-benar dipakai warga, itulah bukti kita tidak sekadar bicara soal hak rakyat, tapi hadir bekerja mewujudkannya. 

Begitu pula saat kita mengawasi agar tunjangan perangkat desa atau proyek rakyat tidak terhambat, atau diselewengkan tanpa memandang risiko itulah wujud nyata, kita mengabdi untuk memberi keadilan, bukan mencari apa yang bisa kita ambil.

KETERIKATAN YANG TAK TERPISAHKAN

Hubungan keduanya adalah hubungan antara Tujuan dan Cara.

Marhaenisme adalah arah kompasnya, Ia menentukan ke mana kita melangkah menuju masyarakat yang adil, merdeka, dan sejahtera bagi seluruh rakyat yang bekerja jujur. 

Tanpa arah ini, segala kerja keras bisa sia-sia, bahkan berubah menjadi alat penindasan yang baru.

Sedangkan Doktrin Karya Kekaryaan adalah langkah kakinya. Ia menentukan bagaimana kita melangkah dengan ketulusan, kesungguhan, dan pengorbanan tanpa pamrih. 

Tanpa sikap ini, cita-cita Marhaenisme hanya akan menjadi retorika indah yang tak pernah sampai menjadi kenyataan.

Keduanya sama-sama memuliakan kerja jujur, Keduanya sama-sama membenci pengambilan hak orang lain, Keduanya sama-sama meletakkan kepentingan rakyat, di atas kepentingan pribadi.

Marhaenisme berkata: "Hasil kerjamu adalah milikmu."

Karya Kekaryaan berkata: "Kerjakanlah sebaik-baiknya untuk mereka."

Tak mungkin kita menjadi pejuang Marhaen sejati, jika belum memiliki semangat Karya Kekaryaan. Dan tak berguna bekerja keras sekuat tenaga, jika arah perjuangan kita bukan mengangkat derajat rakyat kecil yang menjadi jiwa Marhaenisme.

Maka, marilah kita pahami benar-benar: Marhaenisme adalah api yang menyala di dada, sedangkan Karya Kekaryaan adalah tangan yang bekerja mewujudkan nyala api itu menjadi cahaya yang menerangi.

Keduanya menyatu dalam satu perjuangan: mewujudkan Indonesia yang merdeka, berdaulat, dan benar-benar menjadi milik seluruh rakyatnya.

KESIMPULAN 

Marhaenisme dan Doktrin Karya Kekaryaan adalah satu jiwa yang memiliki dua wajah yang tak terpisahkan. 

Marhaenisme adalah cita-cita dan arah perjuangan, yang meyakini bahwa kemerdekaan sejati adalah ketika rakyat yang bekerja jujur menjadi tuan di tanah airnya sendiri. 

Sedangkan Karya Kekaryaan adalah sikap dan cara melangkahnya, yaitu bekerja tulus mengabdi untuk memberi manfaat, bukan untuk mengumpulkan keuntungan pribadi.

Cita-cita mulia tentang keadilan bagi kaum kecil tidak akan pernah terwujud hanya dengan kata-kata, tanpa dijalankan dengan semangat pengabdian yang nyata. 

Sebaliknya, bekerja keras tanpa arah yang berpihak pada rakyat, hanya akan kehilangan makna perjuangan yang sesungguhnya.

Maka, kesatuan keduanya melahirkan pejuang yang utuh, memiliki api Marhaen di dada untuk memperjuangkan keadilan, dan memiliki tangan yang berkarya tulus untuk mewujudkannya. 

Hanya dengan menyatukan keduanya, kita dapat melangkah membangun Indonesia yang benar-benar merdeka, berdaulat, dan menjadi milik seluruh rakyatnya.