CatatanSenjaNews, Roma (28/7/2026) | Dunia sepak bola Italia terguncang hebat dengan langkah Paolo Maldini dan Leonardo Araujo, mereka secara resmi menyerahkan surat pengunduran diri dari jabatan Direktur Teknis dan Penasihat Khusus Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) kemarin, menyusul kebuntuan mendalam terkait penunjukan pelatih kepala Timnas Italia. 

Keputusan ini menandai berakhirnya masa bakti baru berjalan beberapa pekan, tapi penuh makna mendalam bagi seluruh kalangan sepak bola nasional.

Keduanya mengundurkan diri dengan alasan tegas dan jernih, yaitu ketidaksamaan visi dan tidak ditepatinya janji otonomi penuh dalam urusan teknis yang telah disepakati saat mereka ditunjuk.

Usulan mereka untuk menunjuk Andrea Pirlo sebagai arsitek pembangunan Gli Azzurri hingga tahun 2030 ditolak secara sepihak oleh pimpinan federasi, dengan alasan pertimbangan citra dan aspek di luar ranah permainan.

“Kami datang ke sini membawa keyakinan bahwa keputusan soal siapa yang melatih dan bagaimana pola permainan dibangun adalah ranah murni sepak bola. Ketika hal itu tidak lagi menjadi kewenangan kami, maka kehadiran kami di sini tidak lagi memiliki makna,” tegas Paolo Maldini dalam pernyataan perpisahannya disampaikan secara tertulis. 

“Kami tidak berniat menciptakan perpecahan, namun kami juga tidak bisa mengorbankan prinsip yang kami pegang demi kesepakatan yang tidak lagi dijalankan bersama," sambung dia.

Leonardo Araujo menambahkan, langkah mundur ini bukan bentuk kekalahan, melainkan bukti kesetiaan pada janji awal. 

“Kami berjanji membangun masa depan yang kokoh dan beridentitas jelas. Jika fondasi itu tidak boleh kami susun dengan tangan kami sendiri, maka lebih baik kami pergi dengan kepala tegak,” ujarnya.

Dalam tajuk utama harian Corriere dello Sport edisi hari ini, digambarkan bahwa peristiwa ini melahirkan sebuah ironi besar. 

Secara prosedural dan argumen birokrasi, pimpinan FIGC mungkin memenangkan perdebatan, tapi secara moral dan kepercayaan publik, federasi telah menderita kerugian jauh lebih berat.

“Kehadiran Maldini dan Leonardo diharapkan menjadi titik balik dari kebiasaan lama di mana urusan teknis sering dicampuri pertimbangan di lapangan hijau. Ketika harapan itu dipatahkan, rakyat pun ikut berpaling kepercayaannya,” tulis harian itu dalam analisis utamanya. 

Dua legenda ini memilih kehormatan di atas kekuasaan dan jabatan yang diemban. Mereka membuktikan bagi sebagian orang, prinsip jauh lebih mahal daripada sekadar gelar.

Reaksi publik meledak dengan gelombang dukungan yang sangat besar. 

Sebanyak 63 persen responden dalam pemantauan sentimen independen menyatakan solidaritas penuh terhadap keputusan keduanya, menilai langkah yang diambil adalah langkah paling terhormat yang bisa dilakukan seseorang yang memegang teguh amanah. 

Sementara, sekitar 24 persen lebih banyak mengkritik keras tata kelola federasi dianggap inkonsisten dan tidak menghargai keahlian yang dihadirkan oleh dua tokoh besar itu.

Kekhawatiran terbesar muncul adalah terhambatnya rencana pembinaan jangka panjang sempat disusun dengan matang.

Kini seluruh mata tertuju pada langkah pimpinan FIGC selanjutnya. Apakah mereka mampu menambal luka yang terbuka ini, atau justru membiarkan perpecahan semakin melebar?

“Yang paling dirasakan saat ini bukanlah siapa yang benar atau salah,” tulis penanggung jawab olahraga Corriere dello Sport. 

Yang nyata adalah sebuah kehilangan, yaitu kehilangan momentum, kehilangan kesatuan, dan kehilangan kepercayaan yang susah payah dibangun kembali pasca kejayaan Piala Eropa.

Dan di tengah semua itu, satu hal patut dicatat, ada dua nama besar yang pergi bukan karena diusir, melainkan karena mereka memilih untuk tetap menjadi diri mereka sendiri, orang yang menjunjung tinggi kehormatan di atas segalanya. (red)