Oleh: Deon Yohanes Wonggo
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar program kesehatan masyarakat, melainkan instrumen politik tingkat tinggi yang dapat menentukan peta kekuatan Pilpres 2029 mendatang.
Hal ini bisa dibaca sebagai senjata mematikan bagi duet Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, karena MBG memiliki daya jangkau yang luas dan dampak psikologis yang mendalam pada pemilih akar rumput.
"Program Makan Bergizi Gratis adalah investasi politik dengan bunga harian yang sangat tinggi. Jika dikelola secara presisi tanpa cacat administratif yang besar, MBG akan menjadi narasi tunggal yang sangat sulit dipatahkan oleh lawan politik mana pun di Pilpres 2029."
"Keberhasilan program ini akan mengonversi kebutuhan dasar menjadi loyalitas politik yang tak tergoyahkan bagi pasangan Prabowo-Gibran."
1. MBG Sebagai "Infrastruktur Politik" yang Masif
Berbeda dengan proyek infrastruktur fisik yang manfaatnya bersifat jangka panjang, MBG memberikan gratifikasi instan setiap hari kepada jutaan keluarga.
- Daya Jangkau Luas
Dengan target mencapai 82,9 juta penerima manfaat (termasuk anak sekolah dan ibu hamil), program ini menyentuh hampir setiap rumah tangga di Indonesia.
- Politik "Piring Makan"
Keberhasilan memberikan makan setiap hari menciptakan ikatan emosional dan loyalitas pemilih yang sangat kuat. Jika terealisasi dengan baik hingga 2029, MBG akan menjadi bukti nyata "kehadiran negara" yang paling dirasakan secara fisik oleh rakyat.
2. Efek Multiplayer Ekonomi Lokal sebagai Basis Suara
Program MBG di desain untuk tidak hanya memberi makan, tetapi juga menghidupkan ekonomi desa melalui penyerapan bahan pangan lokal.
- Pemberdayaan UMKM
Keterlibatan pemasok lokal, petani, dan katering kecil di sekitar sekolah menciptakan jejaring ekonomi yang bergantung pada keberlanjutan program ini.
- Sentimen Keberlanjutan
Kelompok ekonomi yang diuntungkan secara langsung oleh ekosistem MBG kemungkinan besar akan menjadi basis pendukung fanatik yang menginginkan program ini berlanjut, yang secara otomatis berarti mendukung Prabowo-Gibran kembali.
3. Kontestasi Klaim: Siapa "Wajah" di Balik Piring?
Meskipun Presiden Prabowo secara resmi menyatakan bahwa MBG bukan alat politik untuk 2029, secara taktis program ini tetap menjadi panggung bagi kedua tokoh.
- Legitimasi Kepemimpinan
Keberhasilan MBG akan menjadi modal politik terbesar. Prabowo dapat mengklaimnya sebagai keberhasilan visi strategisnya, sementara Gibran dapat memanfaatkannya untuk menunjukkan kapasitas eksekusi teknis yang mumpuni di lapangan.
- Mitigasi Isu Negatif
Keberhasilan program ini berpotensi meredam kritik terhadap isu-isu lain (seperti ekonomi makro atau demokrasi), karena fokus publik teralihkan pada manfaat nyata yang diterima setiap hari.
4. Risiko yang Bisa Menjadi "Senjata Makan Tuan"
Sebagai senjata mematikan, MBG juga memiliki risiko balik jika gagal dikelola.
- Tantangan Implementasi
Masalah seperti keracunan makanan atau tidak tercapainya target gizi dapat merusak reputasi pemerintah secara instan.
- Beban Fiskal
Jika anggaran yang besar (mencapai 71 triliun rupiah pada tahun pertama) dianggap membebani sektor lain tanpa hasil sepadan, hal ini bisa menjadi celah bagi oposisi untuk menyerang efektivitas kepemimpinan mereka di 2029.