CATATANSENJANEWS.COM | Preferential Option for the Poor, yang artinya "Kepedulian lebih Kepada Saudara yang Lemah dan Miskin" kurang lebih itulah fokus pelayanan Keuskupan Agung Jakarta di tahun 2022 hingga 2026.
Fokusnya menitikberatkan pada keberpihakan sosial bagi sesama yang membutuhkan di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Tentu bagi kita yang belajar tentang apa itu marhaenisme Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta mempunyai titik temu, yakni kesamaan nilai moral dalam membela kelompok masyarakat yang paling kecil, lemah dan tertindas.
Meskipun tak bisa dinafikan bahwa berasal dari latar belakang berbeda, yaitu Teologi Gereja VS Ideologi Politik. Namun, keduanya bertemu kepada keberpihakan pada rakyat kecil.
1. Keberpihakan pada Rakyat Kecil (Preferential Option for the Poor)
* Fokus Keuskupan Agung Jakarta
Dalam Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta 2022 sampai 2026, ditegaskan prinsip Preferential Option for the Poor. Dimana, Fokus pelayanan 2025-2026 secara spesifik diarahkan untuk membantu mereka yang lemah, miskin, tersingkir, dan difabel.
* Marhaenisme
Ideologi yang dicanangkan Bung Karno ini bertujuan membela "Marhaen", tak lain adalah petani atau buruh yang memiliki alat produksi sendiri tetapi tetap melarat karena sistem yang menindas.
* Hubungan
Keduanya bertemu pada visi emansipasi, yakni upaya membebaskan masyarakat dari kemiskinan struktural. Keuskupan Agung Jakarta melakukan ini melalui aksi sosial paroki, sementara Marhaenisme melalui perjuangan politik-ekonomi.
2. Semangat Kolektivitas dan Gotong Royong
* Fokus Keuskupan Agung Jakarta
Pelayanan Keuskupan Agung Jakarta menekankan semangat Subsidiaritas dan Solidaritas, seperti Program-program Pemberdayaan Ekonomi Umat (PEU) di Keuskupan Agung Jakarta mendorong umat yang mampu untuk membantu kurang mampu agar mandiri secara ekonomi.
* Marhaenisme
Prinsip ini sangat kental dengan semangat gotong royong dan sosio-demokrasi, di mana kesejahteraan harus dirasakan oleh seluruh lapisan rakyat, bukan segelintir elit.
* Hubungan
Keduanya menolak individualisme ekstrem; Pertama, Gereja melalui semangat injili. Kedua, Marhaenisme melalui semangat nasionalis. Pertemuan pandangan notabenya sama-sama memandang, bahwa kesejahteraan sejati hanya tercapai jika kelompok paling bawah ikut terangkat.
3. Keadilan Sosial (Sosio-Nasionalisme)
* Fokus Keuskupan Agung Jakarta
KAJ secara rutin menyuarakan keadilan sosial dalam konteks metropolitan Jakarta, seperti masalah penggusuran, nasib buruh, dan akses pendidikan.
* Marhaenisme
Merupakan bentuk nasionalisme yang didasarkan pada perikemanusiaan dan keadilan sosial (sosio-nasionalisme).
* Hubungan
Fokus pelayanan Keuskupan Agung Jakarta merupakan bentuk nyata dari penerapan sila ke-5 Pancasila (Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia), tak lain sila tersebut adalah inti dari cita-cita Marhaenisme.
4. Konteks Wong Cilik di Jakarta
* Advokasi Buruh
Keuskupan Agung Jakarta sering memberikan ruang bagi diskusi dan bantuan hukum bagi buruh di kawasan industri Bekasi dan Tangerang.
* Pendidikan
Pemberian beasiswa bagi anak-anak keluarga tidak mampu (program Ayo Sekolah Ayo Kuliah - ASAK). Hal ini sejalan dengan semangat Marhaenisme yang ingin memberdayakan rakyat agar tidak menjadi budak di negeri sendiri akibat ketimpangan ekonomi.
- Kesimpulan
Satu, Hubungan keduanya bersifat konvergen (bertemu di satu titik).
Dua, Fokus Keuskupan Agung Jakarta adalah menjalankan amanat iman Kristiani untuk mencintai sesama.
Tiga, Marhaenisme adalah alat perjuangan politik untuk mencapai keadilan.
Empat, Keduanya memandang bahwa tolok ukur kesuksesan sebuah tatanan baik gereja maupun negara dilihat dari bagaimana mereka memperlakukan anggota masyarakatnya yang paling menderita.