Oleh: Steven David Malonda, Aktivis Sosial, Fungsionaris LPM Sulut 

CATATANSENJANEWS.COM | Pada 28 November 1960 dengan nama VIM (Voetbalbond Indonesische Manado), yang kemudian berganti nama menjadi Persma Manado setelah kemerdekaan Indonesia. 

Melompat ke era sekarang, memasuki tahun 2026, semangat "Badai Biru" ini sedang coba dibangkitkan kembali melalui entitas Persma 1960. 

Akhir tahun 2025 baru saja melakukan launching untuk berkompetisi di liga kasta bawah, dengan target kembali ke kasta tertinggi dalam tiga tahun ke depan. 

1. Titik Awal dan Promosi 

Awal 1990-an, Persma Manado (sebelumnya dijuluki "Taji Wenang") merangkak dari divisi bawah, setelah momentum besar terjadi pada musim 1994/1995, dimana skuad dominan pemain lokal itu berhasil tampil impresif di Divisi I.

Dengan bimbingan teknis dan dukungan manajerial yang kuat, Persma berhasil menembus babak final Divisi I dan memastikan tiket promosi ke Divisi Utama Liga Indonesia. 

2. Debut Divisi Utama 

Persma memulai debutnya di kasta tertinggi musim 1995/1996. Musim perdana ini, mereka langsung menjadi tim yang disegani, terutama saat bermain di kandang, Stadion Klabat, selalu penuh sesak oleh pendukung dari seluruh penjuru Sulawesi Utara. 

3. Masa Kejayaan 

Dibawah kepemimpinan Gubernur Letjen TNI (Purn) E.E. Mangindaan, notabenenya putra sosok dikenal sebagai tokoh sepak bola nasional (Mendiang E.A. Mangindaan/mantan pelatih Timnas). 

Pada era Gubernur Sulut E.E. Mangindaan tahun 1995 sampai 2000, Persma mengalami perkembangan signifikan. 

* Persma Mencapai Puncak Popularitasnya

Pertama, Pilar Lokal dan Asing: Tim ini mengombinasikan talenta lokal seperti Francis Wewengkang, Jan Kaunang, dan Jacky Sumampouw dengan pemain asing berkualitas seperti Rodrigo Araya dan Jean-Paul Vatta.

Kedua, Laga Internasional: Salah satu momen paling bersejarah adalah saat Persma Manado menjajal kekuatan klub raksasa Belanda, PSV Eindhoven, dalam laga persahabatan di Stadion Klabat pada tahun 1998.

Ketiga, Identitas Badai Biru: Dukungan masif masyarakat kala itu menjadikan Persma bukan sekadar klub, melainkan simbol kebanggaan daerah. 

4. Peran E.E. Mangindaan 

E.E. Mangindaan berperan sebagai motor penggerak sekaligus Bapak bagi para pemain. Pengakuan para pemain semasa itu, beliau menerapkan disiplin tinggi namun tetap menjaga kedekatan emosional. 

Sebuah prinsip yang dirinya bawa dari pengalamannya mengamati mendiang ayahnya dari dekat, serta gemblengan dari dunia militer Indonesia. 

Dengan tuntunan dia, Sulawesi Utara juga berhasil meraih medali perunggu di ajang PON 1996, yang kerangkanya sebagian besar berasal dari pemain Persma. 

* 1995-1996: Musim pertama mereka di Divisi Utama, Persma tergabung dalam wilayah Timur dan finis di posisi ke-11 dari 16 tim dengan 37 poin (dihukum pengurangan 3 poin).

* 1996-1997: Klub ini memperkuat diri dengan pemain lokal yang membawa Sulawesi Utara meraih medali perunggu di PON XIV 1996 dan pemain asing Jules Denis Onana (eks stoper Kamerun di Piala Dunia 1990). 

Persma finis di peringkat ketiga wilayah Timur dan melaju ke babak 12 besar, namun hanya mampu mendapatkan dua poin dan terhenti di babak tersebut.

* 1997-1998: Persma menunjukkan penampilan yang lebih baik dengan menduduki posisi kedua wilayah Timur di bawah PSM Makassar, namun kompetisi terhenti akibat krisis politik dan ekonomi yang melanda Indonesia.