Oleh: Deon Yohanes Wonggo
CATATANSENJANEWS.COM | Mens sana in corpore sano artinya dibalik tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Kalimat sangat familiar di telinga para penganut aliran pemikiran Sukarno, itu berasal dari karya penyair Romawi, Juvenal (Satire X).
Dimana, Awalnya hal tersebut merupakan doa agar seseorang memiliki pikiran yang sehat di dalam tubuhnya.
HUBUNGAN DENGAN SUKARNO
Dalam berbagai kesempatan, Bung Karno sering menggunakan ungkapan ini untuk memotivasi rakyat Indonesia agar menjaga keseimbangan antara kesehatan fisik dan kekuatan mental demi perjuangan bangsa.
Bagi Putra Sang Fajar, Pembangunan bangsa tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga membangun jiwa manusia Indonesia agar kuat dan tangguh.
1. Nation and Character Building
Bung Karno percaya bahwa kemerdekaan fisik (tubuh bangsa) tidak cukup tanpa pembangunan karakter (jiwa bangsa).
Dalam pandangannya, pendidikan harus mencakup persiapan mental yang maksimal secara batiniah bagi bangsa Indonesia.
Membangun suatu negara, membangun ekonomi, membangun teknik, membangun pertahanan, adalah pertama-tama dan pada akhirnya membangun jiwa bangsa.
Tentu saja keahlian adalah perlu, tetapi keahlian saja tanpa didasarkan pada jiwa besar tidak akan dapat mencapai tujuan yang besar.
2. Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya
Kutipan ini sangat identik dengan pemikiran Sang Proklamator, sebagaimana kita ketahui bersama itu terdapat dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya notabene liriknya sangat beliau dukung.
Bung Karno sering menekankan bahwa urutan membangun jiwa harus didahulukan atau setidaknya berjalan beriringan dengan membangun badan.
Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya.
3. Kekuatan Batin VS Kekuatan Fisik
Jika kita meneropong dalam beberapa naskah Bung Karno, beliau percaya bahwa perjuangan bangsa bukan sekadar adu kekuatan fisik (lahir), melainkan perjuangan kekuatan batin yang suci.
Apabila perjuangan kita sudah berdasarkan atas kesucian, maka perjuangan ini pun akan berwujud perjuangan antara kekuatan lahir melawan kekuatan bathin. Dan kita percaya kekuatan bathin inilah yang akan menang.
4. Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945
Bung Karno sering kali menyebutkan, Syarat Utama untuk menjadi bangsa pemenang adalah gotong royong.
Perlu diketahui, Hal ini merupakan bentuk nyata dari jiwa yang kuat dan di praktikan secara kolektif.
Sang Peletak Dasar Negara inipun menarik garis lurus, Pancasila sebagai Pemerasan Kesatuan Jiwa Indonesia.
5. Jiwa Sebagai Modal Utama
Membangun suatu negara, membangun ekonomi, membangun teknik, membangun pertahanan, adalah pertama-tama dan pada akhirnya membangun jiwa bangsa.
Tentu saja keahlian adalah perlu, tetapi keahlian saja tanpa didasarkan pada jiwa besar tidak akan dapat mencapai tujuan yang besar.
6. Persiapan Mental
Pendidikan menurut Sukarno bukan sekadar transfer ilmu semata, melainkan persiapan mental yang dilakukan secara batiniah oleh bangsa sebagai bekal masa depan kelak.
7. Jiwa Kolektif
Dalam pidato Lahirnya Pancasila pada 1 Juni 1945, Putra Sang Fajar menyebutkan gotong royong sebagai "pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama" demi kebahagiaan semua orang.
8. Visi Untuk Dunia
Dalam pidato internasionalnya yang berjudul To Build the World Anew pada 30 September 1960 di hadapan PBB, Bung Karno menawarkan Pancasila sebagai landasan jiwa bagi tatanan dunia yang baru.
- Kesimpulan
Bung Karno memberi penekanan, bahwa jiwa yang kuat adalah mesin utama penggerak bangsa.
Tubuh yang sehat dapat dilihat dari aspek pembangunan fisik, ekonomi, hingga militer, namun itu tidak akan bertahan lama tanpa didasari oleh jiwa yang besar, yakni karakter, mentalitas, dan spiritualitas.
Putra Sang Fajar itupun selalu menegaskan, Nation and Character Building harus didahulukan karena ahli saja tidak cukup.
Indonesia butuh manusia yang memiliki api semangat dan jiwa gotong royong untuk menjadi bangsa benar-benar merdeka.