Catatan: Deon Yohanes Wonggo 

Dalam teori nature merupakan sebuah pandangan yang mengandaikan bahwa peran laki-laki dan perempuan telah digariskan oleh alam. 

Pandangan ini muncul karena melihat berbagai teori filsafat era kuno, contohnya Plato hanya sedikit memberi tempat bagi perempuan. 

Dirinya secara gamblang mengatakan perempuan memiliki jiwa laki-laki rendah dan pengecut, meskipun demikian Plato masih memberikan tempat bagi perempuan untuk menembus kesejatian laki-laki. 

Memperkuat teori nature, Aristoteles pun mendukung ide Plato tentang dikotomi jiwa raga dengan anggapan ketidaksetaraan manusia adalah alami bahwa kuat mendonimasi yang lemah. 

Tentu berbagai penjelasan diatas related dalam kondisi menuju kontestasi Musda Partai Golkar Sulawesi Utara 2026 mendatang, sebelumnya kita telah membahas sosok Tonny Hendrik Lasut (THL). 

Kali ini kita coba membahas mengenai sosok Michaela Elsiana Paruntu (MEP), tak lain adalah Wakil Ketua DPRD Sulut serta Ketua DPC Partai Golkar kabupaten Minahasa Selatan. 

Mari kita lihat dari sudut pandang Maskulin VS Feminin, menggunakan pisau bedah berdasarkan 3 Konsep Metafisika dari literatur "Politik Gender" karya Agus Hiplunudin: 

* Identitas 

Dalam hal agensi politik peran MEP bergeser dari sekedar istri menjadi pemimpin mandiri. Pada hal resiliensi dan otonomi menurut pandangan Feminis. 

Jelas sorot keberaniannya untuk mempublikasikan konflik pribadi sebagai cara memutus impunitas pelaku dalam ruang publik.

* Dikotomi 

MEP dipandang juga harus sebagai Subjek Berdaya, bahwa dirinya Ia bukan hadir hanya sekadar pelengkap. 

Dia harus menunjukan bahwa memiliki identitas profesional sebagai dokter dan karier politik yang sah secara elektoral. 

Kemudian menarik garis tegas, Fokusnya bukan pada perannya di rumah, melainkan kontribusinya di ruang publik

* Kodrat 

Bicara soal Kodrat, MEP adalah penerimaan terhadap keadaan demi institusi pada hal ini menurujuk pada case keluarga maupun partai. 

Berdasarkan pandangan Feminis, kodrat MEP adalah pembuktian bahwa seorang perempuan bisa tetap berdaya secara otoritas publik meski ruang privatnya dihantam badai.

KESIMPULAN 

MEP mengintegrasikan kedua sudut pandang yakni Maskulin dan Feminis; Pertama, Ia memiliki ketegasan strategi untuk memenangkan dukungan mayoritas DPD II. Kedua, tetap menjaga daya tarik simpatik dan inklusivitas dalam berkomunikasi dengan konstituen. 

Tantangan utama MEP adalah memastikan peralihan kepemimpinan dari CEP berjalan mulus, tanpa dianggap hanya sebagai bayang-bayang keluarga atau klan Paruntu semata.